WELCOME TO MY BLOG :D

About Me

Tirsa
Lihat profil lengkapku

Readers

Followers

Label

  • About Me:) (4)
  • Ashilla Zee dll :) (11)
  • CampurCampur :P :) (3)
  • Cerpen (5)
  • CuapCuap (3)
  • Jatuh Cinta Sama Loe No Way (versi Cakshill) (22)
  • KasaKusuk (14)
  • KAU (12)
  • Mario Stevano Aditya Haling (2)
  • PEMBUNUH CAHAYA *versi ALSHILL* (1)
  • SCAVENT CHEERS (1)
  • SVC (SCAVERS VIOLENCE CHEERS) :* (4)
  • Tugas (6)

Blog Archive

  • ►  2014 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Mei (1)
  • ▼  2013 (51)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (1)
    • ▼  Juni (4)
      • Lirik lagu Temani Aku - Riostevadit
      • Lagu-lagu yg di nyanyikan Mario(RIO) di IC 3
      • Jatuh Cinta Sama Elo?! NO WAY! (Versi CAKSHILL) EN...
      • Jatuh Cinta Sama Elo?! NO WAY! (Versi CAKSHILL) EN...
    • ►  Mei (16)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (5)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (12)
  • ►  2012 (33)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (14)
    • ►  Juni (8)
    • ►  Mei (1)
Jumat, 07 Juni 2013
In: Jatuh Cinta Sama Loe No Way (versi Cakshill)

Jatuh Cinta Sama Elo?! NO WAY! (Versi CAKSHILL) ENDING *bag1 : SUNSHINE AFTER THE RAIN



Hay hay hay semua *nyengirtanpados :p
Hehe sorry dory maaf yaa baru di post part endingnya, soalnya sibuk UKK+remidialnya(-_-),trus jarang pegang laptop juga karna akhir” ini sering kena sakit terus -_- *numpangcurhat:p
Dan gak terasa ini udah part ending aja hehe
Mau ngucapin makasih dulu buat kalian yang udah baca cerbug repostan ini dari part awal sampe part akhir :)
Makasih buat yg udah sabar nunggu cerbug ini dipost,krna ngaret terus :p
Dan mau terima kasih terkhususnya buat kak Rere*Regina Maharani Nurlie*  (penulis cerbug ini) yang udah ngijinin aku ngerepost cerbug keren ini di blog :D Makasihh kakkk :* ({}) hehe Sangat ditunggu lohh cerbug ini atau cerbug” kk yg lain dijadiin novel :D Initinya yang jelas BYD kapan dipost? *ehh salah tempat._.:p hahaha :D Pokoknya makasih lahh kakk :* :D

Ohh yaa sebelumnya maaf buat yg mention di twitter,inbox dif b,sms,comment di google,dll nnyaain kapan aku ngerepost part selanjutnya,jarang aku balas hehe :p

Yaudah gak usah banyak bacot(?) lagi,yukkkk dibaca ajaa :DD







 “Pelangi dan hujan. Saling berhubungan, saling menggantikan. Sekarang, hidupku ditemani oleh rintikan hujan yang tak kunjung berhenti. Akankah pelangi menggantikannya?Ataukah,takkan pernah terganti?”


  “Serius?” Shilla tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bahkan dalam hatinya berharap salah dengar.

 “Aku serius sayang. Will you?” alvin mengulang lamaran itu sekali lagi. Dengan harapan dihati, pengabaian atas kenyataan yang menyakitkan dari Agni.

shilla terdiam mendengarnya. Matanya menatap langit, meminta jawaban.

 “Aku gak tau,vin.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Bernada jujur, tak ada kebohongan.


alvin mendengar jawaban shilla, hanya bisa terdiam. Baginya, jawaban itu bermakna penolakan gadis itu secara halus. Namun dia tak ingin menyerah. Selama shilla dalam dekapannya, takkan ada yang bisa merebutnya, bukan cakka, bukan siapapun. Walaupun dalam hatinya berkata, sejak awal, dia kalah total dari cakka. Namun tak ingin mengakuinya. “Aku tau kamu ragu sayang. Minggu depan aku akan temui orang tuamu, yakinin hatimu.” alvin mengucap pasti.


shilla hanya bisa tersenyum walau tau alvin takkan bisa melihat senyumnya itu. Bahkan dia tak ingin alvin melihat senyumnya itu. “Kamu bakal nginap dimana vin?” shilla bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.


 “Aku nginap dirumah tante Fanny di Senayan.”

shilla mengangguk dan menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa, malam ini membuatnya serasa susah bernapas bebas. “Oh begitu... Sayang, aku tidur dulu yah. Udah ngantuk nih. Bye sayang.” Pamitnya.


 “Bye juga sayang. Have a nice dream, my Lullaby. I love you.” alvin mengucapkan selamat tidur dengan penuh sayang.
 “Have a nice dream too sayang.” shilla membalas ucapan alvin dan mematikan ponselnya lalu melemparnya kekasur dan berjalan menuju balkon. Sekedar menghilangkan gundah yang semakin mengaduk-aduk hatinya.
 “Oh God, Moon, Stars, Please, Help me. Show the best way.” Harapnya sambil menatap langit malam yang cerah ditemani bulan sabit dan bintang.
Asyik melamun,  shilla tak mendengar ray masuk kekamarnya dan berdiri disampingnya. “Dek... Tidur yuk. Ntar sakit loh.” Ucap ray merangkul shilla dan menariknya pelan agar menjauh dari balkon dan menutup pintu.
“Langitnya cerah yah kak. Gue pengen liat lagi. Sekaliiii... aja.”
“Ntar lo sakit shill. Lo kan gak tahan udara dingin. Mending lo tidur deh.” Bujuknya sambil menyuruh shilla tidur dan menyelimutinya lalu duduk disampingnya.
“Kak... alvin tadi nelpon. Ngajak gue tunangan.” Curhatnya ketika ray asyik mengelus rambutnya. Membuat dia teringat perlakuan cakka ketika mereka masih serumah. Ketika dia ketakutan atau susah tidur.

“Terus? Lo mau?” Tanya ray menghentikan kegiatannya dan membiarkan shilla duduk disampingnya.

“Gue gak tau kak.” shilla menjawab sambil memilin tepi selimutnya dan mengulum bawah bibirnya.

“Kok gak tau shil?” ray mengerutkan keningnya. Tak biasanya shilla ragu dengan keputusan yang tepat dihadapannya.
shilla menjawab pertanyaannya dengan menangis dan membuat ray berinisiatif memeluknya agar dia bisa menangis sepuasnya. Mencurahkan isi hatinya disetiap isakannya. Dan ray menenangkannya tanpa banyak kata-kata.

“cakka yah?”

Shilla mengangguk dan menghapus air mata yang masih menetes pipinya dan melepas pelukannya lalu menatap ray.
“shilla... jujur sama gue sekali aja. Lo sayang siapa?” ray mengajukan pertanyaan yang sudah setahun ini menjadi bayangan dalam hidupnya.
shilla terdiam lalu menghela napas. “Gue gak bisa milih kak. Gue sayang keduanya.” Akunya

ray tersenyum. Kemudian menggeleng. “Lebih tepatnya, lo sayang siapa?”

“Gue sayang sama cakka kak.” Jujurnya. “Tapi.. gue juga sayang sama alvin.” Lanjutnya terburu-buru.
  “shilla... Kalo lo sayang keduanya, kenapa lo lebih memilih alvin? Apa karna dia mantan pacar lo waktu SMP? Atau karna dia sahabat lo yang baru ditemukan setelah hilang 4 tahun? Atau...” ray sengaja menggantungkan pertanyaan terakhirnya dan tersenyum ketika shilla mengerutkan keningnya.

 “Atau apa kak.?”

 “Lo lebih tau yang terakhir itu daripada gue, dek.”
shilla menghela napas berat. Dia tau maksud ray yang terakhir itu. Berhubungan dengan rahasianya yang dia simpan selama setahun ini, rahasia yang hanya Tuhan dan dirinya saja yang tau. Rahasia yang ikut menyalahkan dirinya. “Jujur kak, Gue terima alvin karna pelarian gue akan cakka. Gue gak bisa terus-terusan digantung kayak gini. Dia cium gue, peluk gue, panggil sayang dan sebagainya. Tapi kami gak ada kejelasan hubungan kak. Teman, gak mungkin. Pacaran, dia gak pernah bilang “shilla, will you be my girlfriend?” Gue merasa digantung kak. Kompromi dengan kata Amnesia membuat gue lelah kak.” shilla menarik napas lalu menatap ray yang siap mendengar rahasianya.
 “Tapi bukan berarti gue gak sayang sama alvin. Gue sayang kak. Waktu dia nembak gue, gue gantungin selama seminggu. Selama itu gue mikir, mencari apakah gue ada rasa sama dia, sekecil apapun. Ketika gue menemukannya, gue langsung bilang iya. Tanpa pernah gue sadari, kalo perasan sayang itu bukan sebagaimana sayang seperti gue ke cakka. Gue merasa bodoh kak. Merasa seperti ikan yang lihat umpan menggantung di kail lalu menyambarnya tanpa memikirkan bahwa itu akan menyakiti mulutnya.” Tutupnya.

 
ray terdiam sesaat. Tak menyangka hubungannya seribet ini. “Lo pacaran sama alvin berapa bulan? Setahun kan?” Tanyanya dan shilla mengangguk.
“Selama itu... apa yang lo rasain? Bahagia? Atau sakit?” Lanjutnya yang membuat shilla terdiam lama lalu bersandar di dinding dan mengambil pigura yang fotonya bersama dia dan cakka waktu di Jogja dan mengelus penuh sayang.
“Pada awalnya, gue senang kak. Gue merasa bisa lepas dari cakka. Walau awalnya harus nangis dulu karna cakka gak terima keputusan gue. Tapi... semakin lama waktu berjalan, gue merasa sakit kak. Gue selalu nyalahin diri kenapa harus terima alvin kalau selama setahun ini, apapun yang gue lakukan sama dia, bukan seperti gue lakuin sama alvin, tapi sama cakka. cakka udah jadi bayangan gue kak.”

 “Terus? Setelah lo rasain ini, apakah lo pengen lanjutin atau ingin mengakhiri dek?”

“Jujur, gue pengen banget mengakhiri kak. Tapi gue gak pengen nyakitin alvin lebih dalam lagi. Dia terlalu baik kak. Dan gue jahat banget mutusin cowok sebaik dia. Tapi ... gue gak tahan lagi kak.” shilla menghela napas dan merasakan ada sedikit lega dalam hatinya karna bisa mencurahkan apa yang dia rasakan selama setahun ini yang turut andil menambah bebannya.

 “Gue boleh ngasih saran?” Tanya ray setelah lama terdiam dan shilla mengangguk.

“Saran gue sebagai sepupu lo dan orang yang tau perasaan lo sekarang, mending lo putus dek sama alvin. Gue tau itu berat. Tapi harus lo lakuin karna semakin jauh lo akan melangkah, semakin susah lo lepas shill. Lo boleh sekarang pacaran sama dia dan terima lamaran dia dengan alasan gak tega nyakitin. Tapi lo bahagia gak?” Tanya ray dan shilla menggeleng lemah. “Enggak kan? Apa artinya menjalani suatu hubungan kalau salah satu dari kita merasakan sakit? Hubungan itu saling mencintai, bukan merasa ada yang tersakiti, shill.” ray memberi penjelasan panjang lebar dan shilla hanya bisa mengangguk membenarkan.

“Gue gak yakin bisa lakuin itu kak,”

 “Kalo lo gak siap, kapan lagi? Lo gak mungkin kan terima terus ajakan dia? shilla... lo baru aja nyakitin diri lo sendiri karna dia yang sama sekali gak tau apa-apa soal ini. Dan lo juga nyakitin cakka. Cowok yang lo sayang. Pikirkan apa perkataan gue, dek. Semua ada ditangan lo. Lo yang memulai, dan lo juga yang harus tau dimana mengakhirinya.” Tutup ray sambil mengacak rambut shilla

shilla hanya diam. Memikirkan ucapan ray dan tersenyum. “Iya kak. Makasih yah udah dengarin curhat gue.” Ucap shilla tulus sambil mencium pipi ray sebagai ucapan terima kasih.
“Sama-sama dek. Udah, sekarang lo tidur deh.” Perintah ray sambil menyelimuti shilla dan menyalakan lampu tidur kemudian keluar dari kamarnya.

Di temaram lampu, shilla menatap langit-langit kamarnya dan mengingat kenangan demi kenangan tentang cakka yang dia simpan sebagai pelipur laranya, sebagai penutup hari saat dia tertidur.

“Kau nyatakan cintamu
Namun aku takkan pernah bisa
ku takkan pernah merasa
rasakan cinta yang kau beri
kuterjebak di ruang nostalgia.”
*Raisa – Ruang nostalgia*

҈҈҈҈

 Seminggu setelah curhat dengan ray,shilla tak lagi membahas masalah ini dengan sepupunya. Dan ray pun tak bertanya. Karna baginya, memberi saran sudah cukup. Sisanya, tinggal shilla yang memilih apa yang terbaik untuknya.
“Pagi shill...” Sapa ray ketika melihat shilla buru-buru turun dari kamarnya dan langsung duduk disampingnya sambil mengambil roti dan selai.

 “Pagi kak....” Balas shilla sembari menyelai rotinya dengan selai coklat lalu memakannya.

 “alvin kapan datang shill?” ray membuka percakapan dan membuat shilla menghentikan sarapan paginya.

 “Gak tau... katanya sih besok malam. Kenapa?”

 “Lo jemput?”

 “Enggak kak. Dia gak minta.” shilla menjawab singkat sambil buru-buru menghabiskan roti gandumnya.
 “Kabar cakka gimana?” shilla langsung berhenti makan dan bertopang dagu ketika mendengar pertanyaan ray.

 “Yaaa...Kami jarang ngobrol sekarang. Bukan jarang lagi, gak pernah malah. ” Jawab shilla lesu sambil teringat percakapan terakhir mereka ditaman yang jauh dari suasana romantis.

Melihat shilla lesu, ray memutuskan untuk menyimpan pertanyaan selanjutnya dan melanjutkan sarapannya dengan diam.
 “Mbak shilla... ada yang nyari tuh. Cowok.” Mpok Ijah buru-buru menghampiri shilla yang asyik makan. Membuat gadis itu mengerutkan keningnya.

 “Siapa Mpok?” shilla menghentikan sarapannya dan menatap ray yang menjawab dengan mengangkat bahu.

 “Gak tau Mbak. Cowok, ganteng banget deh. Katanya sih mau bareng mbak kuliah.” Jelas Mpok Ijah sambil tersenyum malu-malu ketika teringat wajah cowok yang sempat mencuri hatinya itu.

 “cakka?” shilla kelepasan bertanya dan membuat ray tersenyum penuh arti.

Mpok Ijah menggeleng kuat-kuat. “ Bukan mbak. Kalo cakka mah, udah Mpok bilang daritadi. Kan Mpok pernah liat dia.”
“Seharusnya gue tau itu bukan cakka. Wong ama diri gue sendiri aja dia lupa, apalagi ama alamat rumah gue?” shilla membatin lesu.
“Yasudah Mpok. Shilla keluar dulu yah.” Putusnya sambil meninggalkan meja makan diikuti oleh ray dibelakang yang penasaran akut siapa yang menjemput sepupunya.

“alvin?” shilla berseru kaget ketika berada didepan pintu, alvin berdiri didepan ntah mobil siapa sambil melipat kedua tangannya didada dan tersenyum kearahnya.

 “Pagi sayang..” Sapa alvin ramah dan tertawa melihat ekspresi bloon shilla.

 “Kok... kamu ada disini sih? Bukannya besok malam baru datang? Kok...” shilla tak habis pikir dengan alvin yang sekarang ada didepannya, tersenyum.

  “Aku sengaja bilang begitu buat ngasih kejutan aja. Hahaha...” Tawanya yang membuat lengannya dicubit shilla dengan gemas.

 “Jahat banget deh!vin, aku kuliah pagi ini. Dan kamu kecepetan ngajak jalannya.”
 “Aku tau kok. Aku pengen ngantar kamu kuliah.”

 “Beneran? Aku ma kak ray aja deh. kamu kan masih capek. Baru kemaren datang.” Tolak shilla secara halus.
“Enggak sayang. Kalo liat kamu, pasti gak akan capek lagi kok. Malah aku ingin selama ada disini, bisa antar jemput kamu kuliah. Kan sekalian jalan.”
 “Aku gak mau repotin kamu. Kamu kan datang kesini bukan untuk jadi sopir pribadi aku, vin.”

alvin tersenyum lalu meletakkan tangannya di pipi kiri shilla lalu dielusnya.
“Sayang... aku merasa gak direpotin kok. Kamu kan calon tunangan aku... Eh... pacar aku maksudnya.” Ralatnya ketika melihat wajah shilla kalut mendengar kata “Tunangan”

“Gimana kak?” shilla menoleh kebelakang, meminta persetujuan ray yang sedari tadi menjadi obat nyamuk mereka.

 “Gue terserah lo aja shill. Mau bareng pacar lo, silahkan. Mau sama gue, ya gak papa.” ray menjawab dengan senyum penuh arti ketika melihat wajah shilla yang kalut.

 “Yasudah deh. aku ambil tas dulu yah.” shilla langsung masuk dalam rumah untuk mengambil perlengkapan sementara ray mengajak alvin ngobrol.

  “Udah siap sayang?” Tegurnya ketika melihat shilla balik dengan tas dan buku ditangan sambil tersenyum.

 “Yup. Gue duluan yah kak. Bye.” Pamitnya sambil masuk dalam mobil alvin dan melambaikan tangannya.

ray pun membalas lambaian tangan shilla ketika mobil itu semakin menjauh meninggalkan rumahnya dan dia masuk kembali sambil menggendong kelinci shilla yang baru saja lewat didepan kakinya untuk makan bareng.

ѼѼѼѼѼѼ

 “Kenapa kamu ngajak tunangan mendadak begini,vin?” shilla membuka percakapan setelah setengah jam hanya duduk sambil melihat kemacetan.

“Macet banget yah Jakarta. Ampun deh.” alvin mengalihkan pembicaraan karna sedang tak ingin membahas masalah seperti ini disaat macet.

shilla hanya diam dan menghela napas ketika mobil mereke terhenti di lampu merah. “Kalau kamu gak jawab pertanyaanku atau mengalihkan pembicaraan, aku turun nih.” Ancamnya sambil siap-siap membuka pintu.
alvin langsung memegang tangan kanan shilla yang siap membuka pintu mobil. “Nanti aku jelaskan.”

 “Aku mau sekarang, vin.” Tuntutnya.

alvin memilih diam dan memegang tangan shilla posesif agar gadis itu tak lompat keluar mobil karna ngambek. Shilla memilih menatap luar jendela daripada menghiraukan alvin yang mengajaknya ngobrol sambil menggenggam erat tangannya.
 “Kamu marah?” Tanya alvin ketika dia menepikan mobilnya dekat lapangan Bola. Nyerah menghadapi sifatnya.

 “Aku hanya ingin kejelasan. Kenapa?” shilla masih tak ingin menatap alvin dan melihat sekelompok anak kecil asyik menendang bola. Dan merasa nasibnya seperti bola yang ditendang anak kecil itu. Ditendang kemana-mana tanpa arah.

alvin menyentuh dagu shilla pelan dan dtolehkan kearahnya. “Sayang... aku tak ingin main-main kali ini. Aku serius sama kamu.”

 “Tapi ini kecepetan,vin! Kamu pikir tunangan itu seperti kamu ngajak pacaran? Keluarga kita akan terlibat lebih jauh dari ini! Dan kamu pikir aku gak serius selama setahun ini?!”

 “Sayang... dengarin aku dulu.” alvin menenangkan shilla yang emosi karna keputusannya yang dianggap terlalu labil. “Aku mikirin semua yang kamu ucapin. Aku sayang sama kamu, shill. Saking sayangnya, aku rela kesini selama seminggu agar bisa bersama kamu. Aku tau waktu kita sangat kurang, makanya aku ke jakarta untuk ketemu kamu dan melihat apa yang selama ini tidak aku ketahui dari kamu. Aku tak ingin kamu pergi kemana-mana, shill. Itu alasanku.”

 “Tapi vin... aku gak bisa jawab sekarang. Terlalu banyak pertimbangan.” shilla menunduk. Tak berani membalas tatapan teduh alvin yang serasa menusuknya.
 “Aku tau. Makanya aku gak maksa. Yang jelas, kamu bersama aku saja, aku sudah sangat bahagia, shill. Don’t leave me, dear.” alvin mengucapkannya penuh tulus dan mengecup kening shilla kemudian memeluknya erat. Seolah dia tak ingin gadis itu pergi meninggalkannya, walau sebentar saja. Perlakuan alvin membuat shilla ingin menangis saat itu juga saking kalutnya.

 “Oh vin... please jangan semakin buat gue merasa bersalah dengan perlakuan lo!” shilla menjerit dalam hati.
 “Aku gak akan kemana-mana sayang,” Hanya itu yang bisa dia ucapkan. avin yang mendengar hanya tersenyum lalu melepas pelukannya dan mencium pipinya “Aku tau,” alvin mengangkat wajah shilla yang menunduk dan menatap tepat di manik matanya. Mencari apa yang selama ini disembunyikan gadis itu dibalik mata coklat terangnya itu.

 “vin ... sampai kapan kamu natap aku seperti itu?” shilla menegurnya karna risih dengan jarak wajahnya dengan alvin semakin dekat. Membuatnya tersadar dari lamunan dan tersenyum. “Sampai aku menemukan jawaban kenapa aku suka sama kamu dan ingin menatap mata indahmu itu. I like your eyes, darling.” Akunya yang membuat shilla tersipu.

alvin mengacak rambut pacarnya dengan sayang lalu dia menjalankan mobilnya. Melanjutkan perjalanan menuju kampus.
͓͒͒͒͒͒͒͒͒͒͒͛͜͜͞͠͡

  “Silahkan lewat tuan putri,” alvin membungkuk sambil membukakan pintu mobil untuk shilla ketika mereka sudah tiba dikampus. Membuat shilla tertawa namun menyambut tangan alvin.
 “Apa-apaan sih. Malu-maluin tau,” shilla memukul pundak alvin pelan dengan wajah merona. Membuat alvin mencubit pipinya.
“Aduh... pacarku kok jadi tambah cantik dengan pipi merona gitu. Jadi pengen godain lagi deh.” Goda alvin dan membuat pipinya semakin merona.
 “Auk ah gelap,” Ucapnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
 “Cieee... yang lagi digodain pacarnya.” Goda seseorang dibelakang mereka. Membuat shilla dan alvin spontan menoleh dan gadis itu serasa ingin ambruk seketika ketika melihat siapa yang menggodanya.
ify menggandeng cakka dengan mesra dan tersenyum penuh bahagia. Membuat kaki shilla merasa ingin membawa tubuhnya pergi meninggalkan tempat ini selagi mereka berjalan menghampirinya, siap-siap memberikan luka baru dihatinya.
“Hei... selamat bertemu lagi...
aku sudah lama menghindarimu
sialkulah kau ada disini.
sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernapas lagi
tegak berdiri didepanmu kini.”

“Pacar baru lo, shill?” Tanya ify mendekati mereka sambil merangkul cakka semakin erat. Sedangkan cowok itu lebih memilih menatap kearah lain daripada menatap shilla yang sukses membuat hati dan akal sehatnya amburadul.
shilla tak tau harus ngomong apa. Mulutnya mendadak kelu untuk mengatakan sebenarnya. Dihadapannya. Dia memilih untuk mengaku hamil diluar nikah didepan teman-temannya daripada mengatakan yang sebenarnya dihadapan cakka. Cowok yang sukses menjadi bayangannya, dan juga menjadi pihak yang menyalahkan keputusannya.
  
sakitnya, menusuki jantung ini
melawan cinta yang ada dihati.”

“Iya... kami pacaran selama setahun. Lo pacarnya cakka yah?” alvin berinisiatif menjawab pertanyaan ify dan merangkul shilla dengan mesra.

ify tersenyum puas mendengarnya. Saingannya berkurang satu. Dialah pemenangnya. Begitu pikirnya. Kemudian dia mengelus wajahnya sendiri di lengan cakka, persis seperti kucing yang minta dimanja majikannya.. “Iya... wah selamat yah shill. Seneng gue dengarnya sebagai temen.” ify mengucapkannya penuh ketulusan tak dibuat-buat. Membuat shilla hendak muntah mendengarnya.

 “Teman dari mana? Lo bisa gak gausah rangkul cakka erat gitu?! Gue cemburu woy!”
shilla hanya tersenyum singkat sebagai balasan ucapan tulus ify. Lalu matanya menatap cakka yang rupanya memperhatikannya dari tadi dan dia langsung menatap alvin yang ikut memperhatikannya. “shill... aku pulang dulu yah. Bye kka, Bye fy. Jagain pacar gue yah.” Pamit alvin sambil menarik shilla kepelukannya dan mencium keningnya. Sebagai ucapan perpisahan. shilla hanya diam mematung. Tak memberikan reaksi.

Dan, upayaku tahu diri
tak selamanya berhasil
pabila kau muncul terus begini
takkan pernah kita bisa bersama.”


“Sip vin.. hati-hati yah.” Ucap cakka tersenyum lalu menatap shilla sekilas dan menoleh kelain.

alvin hanya mengacungkan jempolnya dan masuk dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan kampus.

 “Aku masuk dulu yah. Bye Shil, Bye Fy.” cakka mengucapkan itu tanpa menatapnya. Dan shilla menatap cakka berjalan meninggalkannya dengan tatapan sedih. ify langsung meninggalkan shilla tanpa pamit dan menyusul cakka.

“Pergilah... menghilang sajalah, lagi.”

*Maudy Ayunda – Tahu diri.*


˹˺˹˺˹˺˹˺˹˺˹˺


 “shill...” Tegur seseorang ketika shilla baru saja keluar dari kelasnya bersama temannya. Dan gadis itu langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang manggil.
 “Kenapa kak?” shilla bingung melihat ray tumben-tumbenan menghampirinya.

“Lo pulang sama alvinkan hari ini?”

 “Gue gak ada janji pulang bareng dia kak. Jadi gue pulang sama lo aja deh. kenapa?” shilla balik bertanya.

“Eummm... gimana ngomongnya yah?” ray menggaruk kepalanya tak gatal dan menatap shilla yang siap mendengarkan omongannya. “Lo sama alvin aja deh. gue ada urusan dek. Hidup mati nih kalo diabaikan. Yah...yah...”
 “Yah...yah... kok gitu sih kak?! Gak seru dong kalo gitu ceritanya!” shilla merajuk dan melipat kedua tangannya di dada. Tanda ngambek. Membuat ray tertawa.
 “Sorry dek... tapi gue lagi ada sesuatu yang gak bisa gue tinggal. Lagipula, lo aneh deh. masa gak mau pulang ma pacar sendiri? Kan dia gak bakal lama di Jakarta. Jadi sebagai pacar yang baik dan setia, lo temanin dia jalan gih.” Bujuknya sambil mengedipkan mata penuh permohonan. Membuat shill tak tega.

 “Iyee...iyee... gue nelpon alvin deh. Emangnya lo mau kemana kak jadi buru-buru gitu?”

ray senyum-senyum malu sambil menggaruk kepalanya tak gatal.
“Gue mau pedekate sama cewek dulu. Kalo sukses, gue kenalin deh. hahaha... bye sepupu gue tersayang,” Ucap ray lalu pergi sambil bersinandung riang meninggalkan shilla yang geleng-geleng melihat tingkahnya.

 “Dasar sepupu labil! By the way, siapa cewek yang ketiban sial digebet kak ray yah?” shilla ngomong pada dirinya sendiri sambil mengambil ponsel dari tasnya dan mengetik beberapa kata untuk alvin. Minta jemput.

^_^_^_^_^_^_^

“Udah lama sayang nunggunya?” Tanya alvin ketika shilla masuk dalam mobilnya dan memasang sabuk pengaman.

dia menggeleng. “Enggak kok.”
alvin hanya tersenyum lalu menjalankan mobilnya meninggalkan kampus.

 “Kita kemana sayang?” Tanya shilla ketika alvin berkonsentrasi penuh membawa mobilnya.

 “Ntar juga kamu tau sayang,” alvin membiarkan shilla berpikir sendiri mereka akan kemana ditengah melajunya mobil menuju luar Jakarta.

“Tunggu.... Kamu ngajak aku ke SMP ceritanya?” shilla kaget ketika mereka memasuki komplek SMPnya di Bandung. Membuat alvin nyengir.

 “Kamu pinter ternyata. Iya... udah lama aku pengen ke SMP bareng kamu. Tapi waktu itu kan kita gak berhubungan lagi. Jadi ku pendam aja keinginan itu. Sekarang aku senang bisa mewujudkannya, sama kamu, sebagai pacarku.” Jelas alvin sambil menatap shilla yang menundukkan wajahnya.

 “Segitu sayangnya kah lo sama gue vin? Gue serasa jadi cewek paling jahat sedunia karna selalu nyakitin perasaan lo tanpa pernah lo sadari.” Batin shilla

 “Aku gak tau harus ngomong apa vin,” Ucap shilla dengan wajah menunduk ketika mobil mereka memasuki halaman SMP.

 “Kamu gak usah ngomong apa-apa. Cukup disampingku saja udah lebih dari cukup, shill.” Ucap alvin tulus sambil mendongkakkan wajahnya dan tersenyum.
 “Turun yuk. Siapa tau ada yang berubah pas kita lulus,” Ajak alvin sambil turun dari mobil terlebih dahulu diikuti shilla dan mereka bergandengan tangan selama mengelilingi sekolah. Tak terlepaskan.

  “Gimana? Ada yang berubah?” Tanya alvin ketika mereka nongkrong di warung Es kelapa setelah satu jam tour dadakan mengelilingi sekolah mereka. Mencari potongan-potongan kenangan dan tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan mereka.

shilla asyik minum pesanannya dan bertopang dagu sambil menatap tembok sekolah. “Ada. Kantinnya lebih banyak kayaknya. Seharusnya kita datang agak siang vin. Kan enak sekalian kuliner. Hahahaa...”

 “Hahahaha... otakmu tak bisa jauh dari makanan ternyata yah. Iya juga sih, ntar deh kalo ada waktu kita mampir lagi pas jam sekolah. Gimana?”

shilla mengacungkan jempolnya dan meminum esnya lagi. alvin menatap ekspresi pacarnya sambil bertopang dagu. shilla yang sadar dilihatin, menatap alvin dengan ekspresi bingung dan salah tingkah. “Kenapa sih liatin aku mulu? Malu nih.” Ucapnya sambil menutup wajahnya sendiri.

 “Emangnya salah liatin pacar sendiri?” alvin balik bertanya.

  “Ya gak sih.. tapi... Auk ah gelap,” shilla menjawab cuek sambil menatap sekeliling warung.

“Kayaknya ada yang kurang deh.” Ucapnya sambil mengerutkan kening. Tanda berpikir.

“Apa?”

“Orang gila yang sering kamu ajak ngobrol kemana yah? Kan kamu anaknya vin,” shilla tertawa melihat ekspresi manyun alvin karna dibilang anak orang gila.

“Kalo aku anak orang gila, kamu siapa aku dong? Kan sebentar lagi kita...” alvin sengaja menggantungkan kalimat terakhir dan membuat shilla tau apa maksudnya, terdiam.

“Kita apa?” Pancingnya.

“Kita nikah?” alvin menjawabnya dengan nada bertanya. Membuat shilla menyesal kenapa jadi memancing alvin dengan pertanyaan bikin kalut  seperti itu.

“Teralu dini kamu mikir kayak gitu,vin. Udahan yuk sayang. Udah sore nih. Ntar kak ray ngamuk lagi aku pulang malam-malam sama kamu,” shilla langsung berdiri dari duduknya. Membuat alvin kaget dan langsung membayar pesanan mereka dan berjalan berdampingan menuju mobil untuk pulang ke Jakarta.         

͌ ͋ ͋ ͋ ͋ ͌ ͌ ͋ ͋ ͌
“Jam berapa sekarang?” Tanya alvin ketika hari sudah mulai gelap dan mereka terjebak kemacetan total ketika memasuki kota Jakarta.

“Jam 8 malam.” Jawab shilla melirik jam tangannya dan menatap kendaraan yang senasib dengan mereka. Terjebak ditengah kemacetan.

“Mau makan sekarang?” alvin menawarkan singgah ketika melihat warung sate dipinggir jalan. Mau tak mau membuat shilla teringat ketika bersama cakka keliling Bandung naik sepeda, mereka mampir di warung pinggir jalan. Dan dia sempat tersenyum sebelum menatap alvin.

“Kamu mau makan?” shilla bertanya balik.

 “Gak sih. Aku masih kenyang,” Tolaknya.

“Yasudah...” Jawabnya dan keadaan pun hening. alvin memilih konsen membawa mobilnya dengan selamat dan shilla lebih memilih melamun sambil melihat kendaraan disekelilingnya berjalan seperti semut berbaris.
“Akhirnya... nyampe juga...” alvin mengucap syukur ketika tiba dirumah shilla dengan selamat. Membuat gadis itu tersenyum manis.
 “Makasih yah sayang udah antar aku pulang dan ke Bandung untuk reunian SMP.”

 “Sama-sama sayang. Masuk rumah gih sekarang. Udah malam. Ntar aku diomelin kak ray lagi terus gak dibolehin lagi jalan sama kamu. Kan ribet.” Alvin mencoba bercanda dan shilla tertawa.

 “Kak ray gak bakalan begitu kok. Yasudah. Hati-hati yah,” Ucapnya sambil turun dari mobil alvin. Namun tangannya ditarik membuat shilla menoleh.

 “Kenap...” shilla belum selesai bertanya, tau-tau alvin menciumnya dengan penuh lembut. Tak seperti sebelumnya, bikin susah napas.

“Love you sayang,” Ucap alvin melepas ciumannya dan menghisap bawah bibir shilla hingga gadis itu menarik napas tertahan dan tersenyum ketika wajah shilla mulai memerah malu dan masih ada kekagetan dengan aksi spontannya tadi.

            “Love you too,” Balasnya sambil mencium pipinya dan keluar mobil tanpa berkata apa-apa lalu melambaikan tangan sebentar sebelum dia masuk dalam rumah. Meninggalkan alvin yang tersenyum dalam mobil sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil bewarna putih dan membukanya lalu mengambil dua buah cincin putih berinisial S untuknya dan A untuk shilla. Kemudian dia menutupnya dan memasukkan dalam handle dashbord agar tak hilang dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah shilla.

            “Kemana aja lo seharian shill?” Tanya ray membukakan shilla pintu dan gadis itu langsung lari kedapur untuk minum.

 “Kemana aja yah...” shilla terlihat berpikir agar ray semakin penasaran kemudian tertawa.
“Lo kenapa sih pengen tauuuuu... aja. Seharusnya gue yang nanya, kemana aja kakak seharian sama cewek misterius itu sampai rela ga bareng gue pulang!” shilla langsung memanyunkan mulutnya ketika teringat siang tadi dan ray nyengir.

 “Sini gue ceritain dulu...” ray merangkul shilla ke meja makan lalu bercerita. “Gue naksir sama sahabat lo, si oik dari lama. Tapi baru bisa gue dekatin sekarang. Jadi... tadi gue seharian ke museum terus ke TMII dan Monas sama dia.”
  “Ke Museum? TMII?! Monas?! Lo serius kak?! Lo naksir sama Ratu Mall se-Jakarta kak! Bukan pecinta sejarah! Wah...” Sahutnya kaget.

“Gue tau...  tapi dia have fun aja kok. bahkan roll kamera gue habis foto dia doang tadi itu. Hahahaha...” ray tertawa ketika rollnya habis karna disikat oik yang selain Ratu mall, juga Ratu narsis karna tak bisa liat kamera nganggur.

 “Hahahaha... oik suka ke Museum? Mendadak pening kepala gue kak,” shilla gak habis pikir sahabatnya bertranformasi dari ratu mall menjadi ratu sejarah dalam waktu sehari

            “Gue gitu looo...” ray membanggakan dirinya dengan menepuk dada. Lalu wajahnya berubah serius. “oik itu kayak gimana sih orangnya?”

            “Seperti yang sering lo liat dikampus kak. Heboh sendiri.  Hahaha.. akhirnya... sepupu gue bisa naksir cewek juga. Sahabat gue pula!”

ray ikut tertawa. “Gimana jalan-jalan lo dengan alvin tercinta?” Tanyanya dan membuat tawa shilla terhenti dan ekspresi wajahnya seperti melamun.

 “Kami tadi keliling Bandung terus sempet lirik SMP kami kak. Siapa tau ada yang berubah.”

 “Gitu doang? Gak jalan kemana gituuu?” ray takjub mendengarnya. Seharian jalan yang dikunjungi hanya tempat untuk mengingat masa lalu.

 “Emang lo mau gue jalan kemana lagi? Itupun gue buru-buru minta pulang karna takut lo ngomel kak!”

            “Sejak kapan gue ngomelin lo pulang telat dek?” ray bertanya sambil menatap shilla lekat. Membuat gadis itu salah tingkah.

            “Gak pernah sih... tapi.. kan siapa tau lo berubah jadi galak.”shilla menjawab sambil menggigit bawah bibirnya ketika ray semakin mendekatkan wajahnya dan puncak kepalanya dipegang.
 “Lo mencoba hindarin dia?” JLEB! Pertanyaan pas nusuk dihati shilla. Membuatnya terdiam.

 “Kenapa lo tau kak?”
 “Mata lo cerita semuanya apa yang gak lo ungkapin,” ray melepas pegangannya dan menjauhkan tubuhnya dari shilla. Membiarkan sepupunya rileks.
“Iya kak... dia sayang banget sama gue,”

 “Gue tau itu sebelum lo sadar, dek.”ray menjawab kalem.

“Gue harus gimana? Gue gak tega mutusin dia kak. Karna... gue juga sayang sama dia. Walau... sedikit,” shilla terdiam ketika kalimat terakhir itu meluncur dari mulutnya.

            “Semua keputusan ada ditangan lo, dek. Gue gak bisa ikut andil dalam hal ini. Gue Cuma bisa kasih saran, sisanya lo yang milih. Apa yang lo lakukan sekarang, lo pasti tau akibatnya kan?” dan shilla mengangguk berat.

            Melihat keadaan sepupunya yang kacau, membuat ray tak tega mencerocoki lebih dalam lagi. “Lo istirahat aja deh. udah makan belom? Gue lagi masak tuh,” Tawarnya.

            “Lo masak? Serius?” shilla takjub untuk kedua kalinya. Sepupu yang ajaib, pikirnya.

 “Lo kenapa sih shill? Kaget mulu! Kayak gue aja ngumumin apa gitu!” ray jengkel dengan ekspresi terkejut shilla.

shilla tertawa mendengarnya. “Gak sih... habis takjub aja seorang Raynald Prasetya, sepupu gue, naksir sama sahabat gue yang rada ajaib dan bisa masak! Lo belajar masak dari siapa kak?”

            “Gue belajar sendiri dong! Masakan hangus, makan sendiri. Daripada lo, makanan hangus, lempar ke bak sampah. Lo sendiri bisa masak apa adekku sayang?” ray bertanya balik dengan seringai mengejek. Membuat shilla ingin menonjoknya kalau tak ingat bahwa mereka sepupu.

            “Gue bisa masak mie goreng doang sih. Tapi... biarpun begitu, yang suka sama masakan gue banyak!” shilla menyombongkan dirinya.

 “Siapa coba yang suka? Palingan kepaksa doang,”
“cakka! Dia suka masakan gue! Kenap..” shilla terhenti dan membelalakkan matanya ketika nama cakka meluncur bebas dari mulutnya tanpa rem. Membuat ray tersenyum.

“cakka yah?” Godanya membuat shilla kikuk.

 “Ah... Tau deh gelap!” Elaknya dan langsung lari kekamar sebelum dia keceplosan lebih banyak lagi.

ray yang melihat tingkah adek sepupunya, tersenyum simpul “Tanpa perlu gue turun tangan, lo sudah memilih, shill.” Gumamnya dan bergegas lari kedapur ketika mencium ada yang bau hangus.
 “Bisa masak kok hangus kak?” shilla melanjutkan sesi ledek-meledek ketika dia turun kamar setelah selesai mandi, mencium bau hangus dan melihat telur mata sapi hasil masakan kakaknya tersaji rapi dimeja makan, menjadi sehitam arang. Diiringi dengan bau nasi goreng yang baunya membuat shilla membayangkan akan langsung masuk rumah sakit apabila memakannya.        

“Yang penting gue masak,” ray menjawab dengan mulut penuh karna mie goreng bikinan shilla yang harus dia akui, enak

 “Masak walau hangus. Pada akhirnya, lo makan masakan gue,” shilla tersenyum penuh kemenangan karna ray tunduk padanya.

 “Iye.. gue kalah. Puas lo dek?” ray mengaku kalah dan dalam hati akan membuat shilla tunduk padanya dengan masakannya yang agak waras.

 “Banget!” shilla menjawab penuh semangat dan mata berbinar. Membuat ray yang meliriknya, nyengir.

 “oik bisa masak kan shill?” ray bertanya dengan nada was-was. Kalau sampai gadis pujaan hatinya gak bisa masak, habislah.

 “Bisa kak. Cuma sama aja kayak lo, hobi hangus. Kayaknya kalian jodoh deh. Lo kenapa kak jadi nanya kayak gitu? Kayak mau nikah aja.”
“Kalo cakka?” ray tak mempedulikan ledekan shilla. Dia hanya ingin melihat ekspresi shilla ketika nama cakka disebut.
Sesuai perkiraannya, shilla terdiam dan memutar-mutar mie di garpunya. “Bisa... gak.. tau...” Jawabnya dengan wajah bertopang dagu dan menatapnya.

 “alvin?”

 “Bisa... enak kok. gue pernah makan. Lo udah selesai makan kan? Sini piring lo, gue beresin,” shilla berdiri dari kursinya dan mengambil piring ray lalu membawanya kedapur untuk dicuci. Meninggalkan ray yang langsung mengontak seseorang untuk melaksanakan misinya.

“Kak... gue tidur dulu yah. Ngantuk nih,” Pamitnya setelah setengah jam bertapa didapur dengan alasan mencuci 2 buah piring yang diselingi dengan melamun.

ray yang asyik menonton komedi, mengajak shilla duduk disampingya agar tertawa bersama untuk menghilangkan gundah dihati. Namun ditolaknya. Membuat ray nyerah untuk membujuk. “Yaudah deh, have nice dream yah,” Ucapnya ketika shilla sudah berada ditengah tangga.

shilla hanya mengacungkan jempolnya walau tau ray takkan melihatnya dan bergegas masuk kamar untuk tidur.

҈҈҈҈҈҈

Di tempat lain...

“Kita putus aja yah,” Ucapan itu bagai palu besar memukul batok kepalanya ketika cakka, cowok yang dia sayangi selama 4 tahun, memutuskannya ditaman tak jauh dari rumahnya. Andai dia tau begini, dia akan memberikan sejuta alasan untuk menolak ajakan ify ketemuan malam-malam.

“Ken...napp..pa?” Suara yang keluar dari mulutnya terasa tersendat. Seolah-olah pasokan oksigen yang dia butuhkan mendadak habis.

cakka tak menjawab. Tatapannya kosong menatap jalanan yang sepi. Seperti hatinya, sepi walau ada yang berusaha mengisi. Dan ify, terdiam bagai menunggu vonis dipancung yang akan dilakukan beberapa detik lagi.

“Rasanya tak sama lagi, fy.” Jawaban akhirnya keluar dari mulut cakka diantara banyaknya jawaban yang tersedia dikepalanya. Membuat ify bangkit dari duduknya dan berdiri didepan cakka yang matanya masih menatap jalanan sepi.

PLAK! Sebuah tamparan keras melayang di pipi kiri cakka bagai bunyi gong ditengah heningnya malam. cakka hanya diam. Tak berniat membalas apalagi menenangkan ify yang naik darah. Baginya ini sepadan dengan ucapannya tadi.
“Kenapa cakka?! Kenapa?! Jawab gue dengan alasan logis lo! Gue gak butuh jawaban abstrak lo!” ify berteriak didepan cakka. Habis sabarnya sudah. Dia hanya butuh jawaban,  bukan jawaban memancing pertanyaan selanjutnya.

“Perasaan gue gak kayak dulu lagi, fy. Bukan berarti gue gak cinta. Bukan... hanya saja... berubah... menjadi perasaan gue ke teman-teman yang lain.”

“Kalo perasaan lo berubah ke gue, kenapa lo terima ajakan balikan gue kka?! Lo mau mainin gue?!” ify meradang dan hendak menempeleng cakka kalau saja tak ingat bahwa dihadapannya adalah cowok yang dia cintai mati-matian.


cakka berdiri dari duduknya dan memegang kedua pundak ify yang naik turun. Diikuti air mata yang terus mengalir bagai air bah di pelupuk matanya. Dan cakka mengusapnya dengan jemari tangannya. “Gue gak ada niat nyakitin lo, fy. Gue nerima lo karna gue pengen mastiin, apa perasaan gue benar-benar mati untuk lo sejak karna kita sempat putus kemaren itu. Tapi... setahun gue jalanin sama lo, gue gak enak lagi dengan semua ini fy. Gue gak mau mempertahanin lebih lama lagi tanpa perasaan apa-apa sama lo. Lo sayang sama gue, tapi gue... gak ada lagi,fy.”

“Kenapa kka? Apa ada yang salah sama gue sampai perasaan sayang lo berubah gini? Gue sayang sama lo. Please... kita coba sekali lagi yah, gue akan buat lo sayang sama gue lagi, kayak dulu.” ify memohon dan menatap cakka dengan bercucuran air mata. Baginya, biarlah dia bersama cakka walau tau cowok itu tak mencintainya. Karna, disampingnya pun sudah bersyukur.
Cakka menggeleng. “Selama setahun, gue udah berusaha untuk mencari, apakah gue masih ada rasa sama lo. Tapi gak ada, fy. Please... jangan paksa diri lo untuk sama gue yang gak bisa lagi sama lo.”

“Gue gak ada harapan lagi?” ify menatap lekat mata cakka dan menghela napas berat. Dia tau arti mata cakka. Penuh tekad kuat. Tanpa ragu.
“Sorry fy. Gue gak mau nyakitin hati lo yang tulus sayang sama gue. Tapi gue gak bisa memberi balik.
Sebuah perkiraan melintas dipikiran ify. Tanpa ragu dia mempertanyakannya. “Lo naksir cewek lain?”

“Kenapa lo mikir gitu?” cakka kaget dengan pertanyaan ify yang tepat sasaran
 “I see in your eyes. Boleh gue tau siapa ceweknya?” ify bertanya dengan nada masih terisak pelan. Dan dia menata hati dan tubuhnya agar tak ambruk mendengar jawaban cakka.

“Gue gak mau jawaban gue bikin lo merasa cewek paling hancur didunia,fy.” cakka berkata tegas dan berusaha memutuskan kontak matanya agar gadis didepannya yang baru saja menjadi mantannya 5 menit yang lalu tak bisa melihat isi hatinya dari matanya.

ify tersenyum singkat. Baginya, dia sudah tau jawaban dari pertanyaannya sendiri dan tak butuh konfirmasi cakka untuk meyakinkannya.

“Gue tau.”

“Lo mau gue antar pulang?” Tawar cakka ketika malam semakin larut, dan semakin sepi sedangkan gadis itu berpakaian minim.

ify menggelengkan kepalanya. “Gak usah. Rumah gue dekat kok. lo pulang dulu deh,” ify mengusir halus cakka yang cemas keadaannya.

“Yakin?” cakka tak yakin. Namun melihat tatapan ify yang berusaha meyakinkannya, dia menyerah. “Ok, gue pulang dulu. Take care yah.” cakka mencium pipi ify yang tak menghindar darinya sebagai perpisahan dan pergi meninggalkan taman dengan sepeda motor Ninja CBRnya.

Melihat cakka sudah jauh darinya, ify langsung terduduk dan menangis sepuasnya sambil meremas dadanya. Rasanya sakit sekali, andai boleh memilih, dia ingin mati daripada hidup dengan rasa sakit. Dia meremas rumput disekitarnya hingga tercabut dari akarnya, agar bisa mengurangi rasa sakitnya. Dia mencintai cakka, kenapa dia tak mendapatkan itu? Ingin sekali menuntut, tapi kepada siapa? Frustasi, ify duduk sambil menelungkupkan wajah dikedua lututnya. Dan dia menatap jalanan sepi dan langit malam yang menjadi saksi betapa sakitnya perasaannya sekarang. “Gue sayang sama lo, cakka! Tapi kenapa?! Kenapa lo gak bisa memberi itu ke gue?! Kenapa harus dia?! Dia yang seharusnya jadi masa lalu lo?!” ify berteriak dan memukul tanah dengan tangan terkepal. Sesak napasnya sekarang.
“Ok, gue terima keputusan lo, cakka. Gue liat gimana usaha lo dekatinnya,  gue biarkan. Gue akan menjadi cewek yang ikhlas dengan keputusan lo. Tapi ingat, kalo gue gak bisa dapatin lo, jangan harap lo bisa milikin dia! Gue akan buat dia, ngerasain sakit apa yang gue rasa ke lo!” ify berkata geram sambil tersenyum sinis. Sebuah rencana hadir diotaknya. Dia menghapus air matanya dan bangkit berdiri.

“Lo gak tau siapa gue, cakka”


**************************************************************
                                                     ͏͏͏͏͏    ͏       
“Gimana?” shanin kasak-kusuk di kampus bersama  sivia cs di taman. Fokusnya teralihkan ketika melihat shilla baru saja datang diantar alvin dan dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat betapa sayangnya alvin dengan shilla. Membuat gadis itu terpikir untuk mendadak mundur tak ingin menjalankan misinya.

“Aku gak tega...” shanin bergumam sendiri dengan tatapan ke arah shilla yang berjalan memasuki kampus, tak melihat mereka yang sedang rapat rahasia.

“Gak tega jalanin rencana yang lo bikin sendiri? Konsisten dong, shan.” oik menatap  shanin dengan tatapan menuduh. Dasar labil. Pikirnya.
shanin menatap sengit oik yang juga menatapnya. Sadar ada dua singa betina siap menghamuk, ray dan rio buru-buru turun tangan.
“Sudah...sudah... Lo gak tega kenapa shan?” ray mengelus punggung oik yang sudah menegang, siap tegang urat.

shanin berusaha rileks ketika rio membisikinya sesuatu. Dan dia mulai tenang kembali. “Rencana yang gue ceritain kemaren kak. Mendadak gak tega gue. Lihat alvin segitu sayangnya dengan shilla, bikin gue ngerasa cewek paling jahat sedunia.” Keluhnya.

sivia yang sedari tadi diam, ikut bicara. “Gue tau apa yang lo pikirin shan. Tapi ingat... lo gak berusaha buat shilla putus dengan alvin. Lo Cuma memberi celah agar dia bisa ngobrol dengan cakka lagi. Menjelaskan masalah mereka. Itu aja. Masalah kedepannya mereka putus atau gak, itu keputusan shilla. Bukan karna ide lo. Lagipula...” sivia terdiam dan menatap  shanin yang mendengar penuh antusias. “Gue setuju kok dengan ide lo. Udah lama sejak di Jogja itu gak liat mereka bareng. Gue kangen...”

oik angguk-angguk mendengar penjelasan sivia. “Gue setuju tuh. Lagipula... lo tau gak shan... cakka putus sama ify” oik mengucapkan penuh penekanan di kalimat terakhir. Membuat mereka yang mendengar, kaget.
“Lo dengar dari siapa?! Jangan ngarang lo!”  shanin paling shock diantara yang lain. Secara dia Sepupu cakka, 24 jam ketemu, paling menentang cakka dengan ify, malah gak tau kabar ini.

oik mendengus jengkel mendengar ucapan shanin.
“Gue dengar sendiri kemaren ify curhat ama gengnya kalo mereka putus 6 hari yang lalu! Dia cerita ajak cakka balikan, tapi gak pernah sukses. cakka pengen jadi teman doang. Emang dia gak cerita sama lo, shan? Lo kan serumah ma dia?”
Shanin mengingat-ingat kejadian sebelum-sebelumnya. Lalu dia menjentikkan jarinya. “Gue ingat! Kak cakka pernah keluar malam-malam naik motor. Padahal dia gak pernah keluyuran naik motor. Pas gue tanya mau kemana, dia cuma jawab “Urusan hidup mati,” Gitu doang. Wah... asek dong mereka putus!”  shanin melonjak kegirangan dan tersenyum bahagia ketika shilla, baru keluar kampus.

“Gue nyamperin Kak shilla dulu yah, bye...” Pamitnya sambil berlari menghampiri shilla.

“Pacar lo kayak anak kecil yah,yo.” Ejek Iel geli ketika melihat  shanin bercerita penuh semangat dengan wajah penuh ekspresi pada shilla yang cenderung tenang. Membuat rio yang memperhatikannya, nyengir.

“Iya... tapi gue sayang.” rio menatap  shanin penuh sayang.


“Yah...yah... Ikut aja yah kak, gue pengen lo ikut kak, please...” Bujuk  shanin agar shilla menganggukkan kepalanya setuju.

“Tapi... tanpa alvin?” shilla balik bertanya mendengar ide  shanin yang mengajaknya ke Dufan bareng karna dia merayakan anniversary 5tahun dengan rio. Bersama yang lain.

shanin mengangguk semangat. “Iya kak. Sesekali deh lo lepas sama dia. Gue kehilangan lo, kak. Please...” shanin menatapnya penuh harap. Penuh wajah memelas, persis seperti dia lakukan apabila ingin sesuatu dari agni, kakaknya dan cakka.

shilla terlihat berpikir, lalu tersenyum. “Ok deh. demi lo deh. daripada acara batal total karna gue gak ikut,” Dan  shanin langsung memeluk erat. “Thanks kak. Gue tunggu yah. Bye...”  shanin tersenyum dan bergegas lari lagi menghampiri mereka sambil mengacungkan jempolnya. Membuat mereka yang melihat kode itu, tersenyum.

“Dasar shanin,” Hanya itu yang diucapkan oik sambil menggelengkan kepalanya.

shilla berjalan menghampiri mereka yang memanggilnya sambil mengirim sms kepada alvin untuk memberitahu kemana dia pergi lengkap dengan tujuannya. alvin langsung membalas smsnya dengan bilang hati-hati.

Asyik cekikikan dengan mereka sambil duduk mengelilingi meja taman, tiba-tiba cakka lewat tanpa melirik mereka. “Woy... cakka! Sini bro!” Teriak rio ketika melihat cakka lewat didepan mereka. Membuat shilla menoleh dan bertatapan sebentar sebelum saling memalingkan wajah.

Cakka  menghampiri mereka dan duduk disamping shanin yang kebetulan kosong. “shan  jadi gak?” Tanyanya membuat  shanin tersenyum.

“Kita udah jadi lumut kayak di batu tuh karna nunggu lo, kak!” Gerutu  shanin sambil menunjuk batu yang sudah berwujud lumut saking lamanya.
“Yaudah... yuk..” cakka berdiri dari duduknya sambil mengulurkan tangannya ke shanin , tapi dijawab gadis itu dengan gelengan.
“Gue sama rio kak. Lo sama...”  shanin menatap mereka sekeliling yang sudah saling memegang pasangannya sendiri. Dan tatapannya terhenti di shilla, membuatnya nyengir. “Sama shilla deh kak,” tunjuknya membuat shilla kaget.

“Gue sama Kak ray aja deh,” Tolaknya sambil menatap ray yang memegang tangan oik. Kemudian menatap  sivia yang merangkul Iel erat dan rio memeluk pinggang shanin. Membuatnya menghela napas. Dia membaca rencana mereka. Dan tak bisa menolak lagi.

“Gue sama oik dek,” Tolak ray penuh ekspresi maaf. Membuatnya shilla semakin berat.

“Gue sama  sivia deh,” shilla keukeuh tak mau semobil dengan cakka. Walaupun dia tau cowok itu sukarela saja menerimanya.

Iel buru-buru mempererat rangkulannya “Gue sih mau aja, tapi lo mau gak jadi obat nyamuk di belakang karna liat kami pacaran? Gak kan?”

“Yasudah... Ayoo shilla... sampai kapan lo bengong disitu?” cakka menarik tangan shilla agar ikut bersamanya menuju mobil dan meninggalkan mereka yang saling tersenyum. “Misi sukses,” Ucap shanin dan mereka berjalan beriringan.

Ify yang melihat itu di kejauhan, senyum sinis tercetak di bibir tipisnya. Dan dia pun berjalan menjauh sebelum kepergok.

Tiitt...tiitt.... Bunyi klakson saling bersahutan ditengah kemacetan Jakarta yang semakin parah, semakin bikin stres bagi yang terjebak diantaranya. shilla asyik menatap kemacetan dihadapannya tanpa sedikitpun ingin berbicara dengan cakka. Bukannya tak ingin, tapi tak ada bahan yang dibahas.

cakka bosan setengah mati. Dia menyalakan radio dan sesekali melirik shilla yang menatap kearah lain. Ingin mulutnya bertanya tentang apa saja, atau membuat gadis itu marah dan tersipu. Tapi dia seperti kehilangan kemampuan melakukan itu semua.

“Kka ...”shilla memanggilnya tepat disaat cakka juga memanggilnya. Membuat mereka saling berpandangan dan tersenyum kikuk.

“Lo dulu deh,” cakka mempersilahkan shilla ngomong dulu. Namun gadis itu menggeleng.

“Lo dulu deh. kayaknya lebih urgent daripada gue,” shilla mempersilahkan balik.   

“Gue lupa mau ngomong apa,” cakka menjawab sambil memijit kepalanya yang mendadak nyut-nyutan. Membuat shilla cemas.

“Lo sakit?” Tanyanya hati-hati.

“Gue kurang tidur beberapa hari ini,” Keluhnya sambil terus memijit kepalanya dengan tangan kirinya. Membuat shilla berinisiatif menyentuh kepala cakka dan memijitnya pelan.
“Enakan?” Tanya shilla sambil terus memijit kepala cakka dan melihat lingkaran hitam di kedua bawah matanya.

Cakka mengangguk dan membiarkan kepalanya dipijat gratis tanpa bayar oleh shilla.

“Gue suka lagu ini,” cakka berseru sambil membesarkan volume dan bernyanyi mengikuti Ne-yo menyanyikan one in million, lagu kesukaannya.

“Gue juga. Musiknya asyik.” shilla membenarkan sambil ikut bernyanyi bahkan menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

“Ini lagu paling sering gue dengarin diantara yang lain. Pas gue di Jerman gue suka banget sama ini lagu. Tentang dia yang menganggap ceweknya yang pertama dihatinya diantara yang lain. Bukan siapapun.” Jelas cakka.

shilla menatap cakka. Dalam hati berharap, dialah cewek yang dimaksud. Tapi mendadak dia mengubur harapannya dalam-dalam. Tak ingin sakit. “Pasti  ify cewek yang lo maksud kan?” Tanyanya.

cakka menggeleng. “Bukan. Sebelum ketemu dia, gue udah suka sama lagu ini. Lagipula.. gue udah putus 6 hari yang lalu.” Jawabnya membuat shilla shock.

“Lo putus? Kenapa?”

“Gue memilih untuk menunggu seseorang daripada berusaha mencintai yang gue tak bisa lakuin lagi,” Jawab cakka sambil menatap dirinya. Membuat shilla tau siapa yang dimaksud, lebih memilih diam.

“Kenapa lo milih dia, shill?” Tanya cakka sambil fokus menyetir mobilnya yang sudah meninggalkan kemacetan. Membuat shilla mau tak mau teringat kejadian dimana dia memilih alvin dan alasan yang dia ucapkan ke ray. Mendadak, perasaannya menjadi sakit sendiri.

“Gue gak bisa jawab pertanyaan lo, kka.”

“Apa istimewa dia jadi lo pergi, shill?” cakka mengabaikan jawabannya dan memilih terus menyerang gadis itu agar mengaku.

“Kenapa lo balikan sama ify? Apa karna gue pacaran dengan alvin?” shilla menyerang balik dengan dua pertanyaan sekaligus.

“Salah satunya itu. Dan gue ingin merasakan apa masih ada perasaan gue untuk ify . Ternyata gak ada lagi walau sekuat apapun gue coba.”
“ify pelarian buat lo?”
“Iya. Tapi...lebih tepatnya...” cakka menghentikan mobilnya di tepi jalan dekat lapangan kosong dan berbalik menatap shilla sambil mendekatkan wajahnya hingga gadis itu memundurkan tubuhnya hingga terbentur kaca mobil. “Gue berusaha apa yang gue rasakan ke lo, gue lempar ke dia. Tapi gak bisa. Sayang gue gak bisa dibagi apalagi dilempar ke cewek lain. Kemanapun gue melangkah, pasti balik lagi ke lo. Walau lo dengan teganya malah sayang dengan cowok lain.”

Shilla merasa jengah ketika hela napas cakka sangat terasa. Bahkan dia merasa, apa yang dihirup cakka, terhirup olehnya saking dekatnya jarak mereka. “Lo nyalahin pilihan gue?”

cakka menggeleng. Lalu dia semakin dekat dan menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidung shilla yang mendadak menahan napas karna ulahnya. “Bukan menyalahkan. Gak terima lebih tepatnya.” Jawabnya sambil menatap mata shilla dengan lekat. Dia rela menghabiskan sisa hidupnya agar bisa terus menatap mata coklat terang yang membiusnya itu.

shilla mendorong tubuhnya agar menjauh. Namun cakka lebih sigap dengan memegang kedua tangannya dan tersenyum manis. Membuat shilla blank seketika melihat senyumannya.
“kka..” Panggilnya agar cowok itu melepas tangannya agar dia tak lama-lama memandang senyumnya yang dirasa memabukkan.

cakka mencium punggung tangan kanan shilla lalu melepasnya dan dia mulai menjalankan mobilnya kembali. Dan shilla memegang dadanya yang berdegup kencang dan menarik napas pelan. Mencoba rileks walau tau usahanya takkan pernah sukses kalau sudah berhadapan dengan cakka.
                                                            ҉҉҉҉

“Penuh banget yah,” Seru shilla ketika keluar dari mobil cakka dan takjub melihat banyaknya mobil terparkir di halaman.

“Kalo gak rame, bukan Dufan namanya, shill.” Seru cakka sambil merangkul pundaknya. Membuat shilla ingin melepasnya karna takut ketahuan yang lain. Namun terlambat, karna mereka sudah ada dibelakangnya. “Cieeeeee... yang rangkulan.” Goda  shanin yang baru kali ini melihat kemesraan mereka diluar dan bangga dengan diri sendiri karna sukses total.

cakka hanya nyengir dan shilla hanya menundukkan wajahnya malu sambil berharap tak ada yang melihat dia rangkulan dengan cowok lain.

“Antri yuk...” Ajak  shanin menarik rio dan menerobos di tengah-tengah kemesraan cakka yang selalu menggoda shilla dan membuatnya jengkel. “Lo kayak gak ada jalan lagi aja deh  shan jadi main terobos!”

“Sorry kak,”  shanin hanya nyengir kuda sambil lirik rio lalu mengantri tiket diikuti yang lain dibelakang.
“Yeeeee....” shilla berteriak riang ketika sudah memasuki arena Dufan dengan stempel di punggung tangannya. Cakka melihat keriangan shilla kayak anak kecil diajak ke taman hiburan, tersenyum.
  
 shanin dan yang lainnya melihat itu, berjalan agak menjauh karna tak ingin mengganggu dan sepakat untuk berpencar dengan pasangan masing-masing. Biar romantis kata shanin.

“Lo mau naik apa dulu,shill?” Tanya cakka ketika gadis itu sibuk memilih permainan yang ingin dia naiki.

“Itu...” shilla menunjuk yakin permainan komedi putar yang didominasi anak-anak kecil daripada seumuran mereka.

“Serius?” cakka tak yakin dengan pilihan shilla. Namun dia tak tega menolak ketika gadis itu menatap penuh harap.

“Banget!” Tanpa ragu shilla menjawab dan menarik cakka agar menghampiri permainan itu.

“Yihaaaaaaaaaaaaa....” shilla teriak penuh kegirangan disamping cakka yang lebih tepatnya menikmati wajah senangnya daripada permainan yang dia pilih.

“Kita nyoba yang lain yuk,” Ajak shilla sambil turun dari kudanya dan menarik cakka untuk keluar dari komedi Putar karna melihat permainan yang lebih seru lagi diluar sana.

“Bagaimana kalo ini?” cakka berseru senang ketika mereka berjalan melewati rumah hantu, permainan kesukaannya dan berhenti. Namun tidak bagi shilla. Wajahnya sudah pucat pasi ketika melihat poster pocong menjadi icon utama permainan itu.

“Gak...gak..” shilla menggeleng kuat-kuat sambil menarik cakka agar menjauh. Namun cakka tak bergeming malah menariknya agar berdiri disisinya. Memandang poster seperti melihat siapa yang menang undian.

“Takut?” cakka bertanya dan ada ide jahil muncul diotaknya.

“Lo gak usah tanya deh! emang wajah gue gak yakinin apa gue takut?! Gak...gak! gue mau main yang lain!” shilla jengkel mendengar pertanyaan cakka yang sangat bodoh itu. Baginya, diantara banyaknya permainan yang tersedia, kenapa harus rumah hantu? Kayak gak ada permainan seru aja.

“Ayolah... gue udah ikutin permainan lo, masa lo gak mau ikut pilihan gue? Gantian dong.”

“Ayolah cakka... permainan yang lebih seru dari ini masih banyak, kenapa lo milih ini?!”

“Karna gue suka, kenapa? Ayolah... lagipula... hantunya gak beneran, shill. Mereka cuma pegawai sini yang dandan kayak hantu. Itu aja.” cakka berusaha meyakinkan shilla agar ikut masuk. Kan gak seru masuk rumah hantu tanpa ada yang meluk dia, begitu pikirnya.

“Biar beneran kek, enggak kek, gue gak mau masuk, cakka! Kalo gue pingsan, lo mau tanggung jawab?!”

“Mau kok. Lo gue gendong terus gue kasih napas buatan biar sadar lagi.” cakka mengedipkan matanya genit ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Membuat shilla malu.

“Apaan sih lo,” Elaknya.

“Masuk yah? Yah...Yah?” cakka gencar membujuk shilla agar mengangguk. “Iya...” Angguk lemah shilla tanda menyetujui. Membuat cakka langsung masuk ke dalam rumah hantu diikuti shilla dibelakangnya yang tak ingin digandeng.

                                                                 ѺѺѺ

“Kyaaaaaaaaa!!!” Sudah berapa kali shilla menjerit ketika sosok hantu yang paling dia takuti, pocong, ada didepannya dan menatap dirinya yang sekarang terduduk dilantai sambil menutup kedua telinganya ketika pocong jadi-jadian memanggilnya untuk ikut kealam arwah.

cakka melihat itu, langsung menghampiri shilla dan duduk lalu memeluk gadis itu yang sudah menangis terisak saking takutnya.

“Makanya... gue bilang juga apa, lo jalan disamping gue deh, gak akan diganggu.”

“Lo yang jalan sendiri aja diganggu sama mereka, apalagi kalau bareng gue?!” Ucap shilla disela isaknya. Kakinya serasa lemas seketika ketika dia mendongkakkan wajahnya dan menatap kearah lain, melihat Kuntilanak plus ketawanya yang khas sedang melihat dia. Membuatnya menjerit lagi.

 “Keluar yuk,” Ajak shilla karna tak tahan lagi disini. Entah apa jadinya dia kalau setengah jam lagi disini bersama hantu-hantu jadian disampingnya.

“Tanggung sayang. Nikmati aja deh. kan ada gue, shill.” cakka menatapnya penuh lembut dan membantu shilla berdiri yang sudah lemas saking takutnya dan merangkul pinggangnya.

Sepanjang perjalanan, shilla lebih banyak memeluk cakka erat ketika hantu-hantu jadian itu menerornya. Bahkan sampai mencolek punggungnya yang membuatnya semakin erat menyembunyikan wajahnya di dada cakka yang bidang.

“shill... lo suka anak kecil kan? Tuh ada anak kecil imut banget,” Ucap cakka ketika shilla entah sudah berapa kali memeluknya. Namun dia diam saja. Menikmati.

“Mana?” shilla melepas pelukannya dan melihat siapa yang ditunjuk cakka. Ketika tau siapa yang dimaksud, dia mencubit pinggang cakka keras. “Imut apaan?! Itu tuyul, cakka!Tuyul!Kayak lo!” Gerutunya lalu memeluk erat ketika melihat dipojokan, seseosok anak kecil menjadi tuyul sedang melambaikan tangan kearahnya dan tersenyum memamerkan giginya yang ompong.

“Kalo gue tuyul, kenapa lo gak takut sama gue?” cakka mendongkakkan wajah shilla yang tersembunyi di dadanya dan menghapus air mata yang menetes. Membuat shilla blank seketika.

“Karna... Ah... Apaan sih,” shillamelepas pelukannya lagi dan menjawab pertanyaan gaje cakka kearah lain. Tak ingin cowok itu tau betapa merah wajahnya sekarang.

cakka mengacak rambut shilla dan tanpa perlawanan, dia menggenggam tangan gadis itu dan berjalan kearah lain. Dan shilla tak berniat melepas genggaman tangan itu.

“Bioskop Hantu” begitulah isi tulisan ketika mereka memasuki salah satu lorong. Membuat cakka menatap shilla. Tau arti tatapan dia,shilla memelototinya. “Gak! Lo nonton aja sendiri! Jantung gue udah hampir lepas karna disini!” shilla menolak mentah-mentah usul cakka.

“Yahhh... liat yah... gue janji deh, sehabis ini, lo boleh pilih permainan apapun yang lo mau,” Janjinya.

“Janji? Apapun?

“Apapun.” cakka menjawab yakin. Membuat shilla menyerah.

“Gak ada hantu lagi kan?”

“Tergantung. Eh..iya..iya.. gak ada lagi.” cakka menambahkan ketika melihat wajah shilla berubah masam.

“Iya deh...” Jawabnya pasrah dan membiarkan dirinya ditarik cakka masuk kedalam.

“Kok matanya ditutup sayang? Dibuka dong.” Pinta cakka ketika melihat shilla menutup matanya sepanjang film, membuatnya gemas.

“Gak berani,” shilla menjawab pelan sambil terus menutup matanya. Baginya, lebih baik menutup mata sepanjang film berlangsung daripada membuka mata, namun pada akhirnya dia harus tidur bareng kak ray dikamar saking takutnya.

“Kalo lo takut, anggap aja hantunya itu gue, pasti gak akan takut lagi.” cakka berusaha membuka mata shilla dari gelitikan, sampai tiupan ditelinga yang bikin merinding. Namun shilla tetap saja menutup mata dengan kedua tangannya.




bagian 2 nya besok yaa :)
Diposting oleh Tirsa di 03.00
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Copyright © 2012 WELCOME TO MY BLOG :D |